Menyesal
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah terjadi tak bisa di ulang kembali, apa yang sudah hilang tak bisa dicegah. Baru saja saya kehilangan uang. Uang hasil kerja keras saya. Memang jumlahnya bukan jumlah yang mematikan. Tapi saya cukup kecewa. Dalam sekejap lenyap. Bukan... Bukan hanya karena kehilangan rejeki. Bukan lantaran jumlah uang dan sebagainya. Tapi saya kesal. Saya benci pada sikap saya yang cenderung c uek-tak peduli-dan-terlalu percaya pada orang lain. Tidak suka pada sifat saya yang tidak teliti, terburu-buru, ceroboh, linglung, tidak fokus. Kenapa? Kenapa selalu begitu. Bagaimana saya bisa merubahnya? Darimana harus saya mulai. Apalagi sifat pelupa saya yang juga tak kalah hebat membuat saya kecewa. Yap. Saya menyalahkan diri saya. Karena kejahatan biasanya terjadi bila ada kesempatan. Dan kejadian ini terjadi karena 'kesempatan' yang saya buat. Lebih tepatnya kelalaian saya. Keadaan + niat jahat + kesempatan = Kejahatan Kira-kira itu yang saya pikirkan...