Menyesal

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah terjadi tak bisa di ulang kembali, apa yang sudah hilang tak bisa dicegah. Baru saja saya kehilangan uang. Uang hasil kerja keras saya. Memang jumlahnya bukan jumlah yang mematikan. Tapi saya cukup kecewa. Dalam sekejap lenyap.

Bukan... Bukan hanya karena kehilangan rejeki. Bukan lantaran jumlah uang dan sebagainya. Tapi saya kesal. Saya benci pada sikap saya yang cenderung cuek-tak peduli-dan-terlalu percaya pada orang lain. Tidak suka pada sifat saya yang tidak teliti, terburu-buru, ceroboh, linglung, tidak fokus. Kenapa? Kenapa selalu begitu. Bagaimana saya bisa merubahnya? Darimana harus saya mulai. Apalagi sifat pelupa saya yang juga tak kalah hebat membuat saya kecewa.

Yap. Saya menyalahkan diri saya. Karena kejahatan biasanya terjadi bila ada kesempatan. Dan kejadian ini terjadi karena 'kesempatan' yang saya buat. Lebih tepatnya kelalaian saya.

Keadaan + niat jahat + kesempatan = Kejahatan

Kira-kira itu yang saya pikirkan. Hendaknya kita meningkatkan kewaspadaan agar tidak memberi celah bagi orang lain untuk berbuat sesuatu yang merugikan diri kita.

Kali ini saya belajar untuk lebih fokus, lebih teliti, lebih cermat dan lebih tepat dalam bertindak. Menghindari sikap terburu-buru, mendahulukan hal yang penting dan punya prioritas.

Lagi-lagi harus diambil hikmah dari setiap kejadian kan?

Viba Rosfanty Taufan | Bengkalis, 27 Juli 2010

Comments

  1. zaman sekarang ini udah banyak mungkin orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa saja yang diinginkan.. gpp, mungkin hal ini bisa jadi pelajaran dikemudian hari agar supaya lebih berhati-hati (bukan tidak percaya), salam kenal yah.. posting yg bagus

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga ya...
    iya saya belajar untuk lebih waspada dan ikhlas :p

    terima kasih ya telah berkunjung :).

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kepadamu

Menjadi Dewasa

Random thought.