Ngeluh.
... emang paling gampang. Merasa diri paling sial, merasa yang paling berkorban. Bahkan merasa sudah berbuat banyak hal dengan mengeluh.
Padahal hampir setiap orang pasti menghadapi masalah, hampir setiap orang juga pasti pernah ngerasain kecewa karena kenyataan tak sesuai harapan. Dan gak semua orang ngejalanin hidup sesuai keinginan.
Saya sadari, semenjak suami saya sekolah lagi (kira2 setahun lebih) bisa dibilang saya suka ngeluh. Karena ada satu dua hal yang hakiki dan melenceng dari rencana kami berdua. Yang sempat bikin kebakaran jenggot, meskipun akhirnya semua itu berjalan juga.
Alhamdulillah... Bisa dibilang semua berjalan begitu aja. Allah kasih kemudahan juga buat kami. Dan (sebenarnya) saya pun bisa berkompromi dan menikmati yang saya jalani. Dengan kata lain banyak manfaat dan segi positif yang (sudah) bisa saya ambil.
Trus kenapa saya masih ngeluh?
Balik lagi ke rasa kecewa karena apa yang (dulu) diharapkan tidak berjalan sesuai adanya. Padahal Allah sudah memberikan nikmat lain sebagai hikmah dari kejadian tersebut. Saya ngeluh ke orang-orang sekeliling saya. Tentang begini begitunya yang sebenernya gak penting lagi, karena semua sudah ada solusinya meski jalan yang kami lalui lebih berliku.
Mungkinkah saya yang kurang bersyukur? Atau rasa kecewa memang pantas dikeluhkan?
Saya pikir ini saatnya saya untuk berhenti mengeluh. Saatnya untuk menerima keadaan, dan gak mendramatisir sesuatu agar tampak menjadi sesuatu yang hebat.
Mungkin ini saatnya saya untuk belajar legowo, belajar menerima, belajar bahwa mengeluh tidak menjadikan kita lebih baik.
Saya hanya perlu memaafkan keadaan apabila gak bisa menyuguhkan seperti yang saya harapkan. Saya hanya perlu menerima dan percaya bahwa keadaan ini adalah yang terbaik untuk saya jalani. Saya hanya perlu memaksimalkan dan mencari keuntungan dari setiap keadaan yang saya alami. Saya hanya perlu menggeser sudut pandang untuk melihat keadaan yang gak saya sukai.
Saya hanya perlu bersyukur.... Dan berhenti mengeluh.
Bersukur itu semudah dan sesulit mengeluh. Hanya setipis sudut pandang kita.
Kadang kita suka berkompetisi dengan rejeki orang lain, kesuksesan orang lain, serta jalan hidup orang lain. Padahal jalan kita sudah digariskan seunik diri kita.
"Comparison is the thief of joy" - Theodore Roosevelt
Pasti udah sering denger, kalau gak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, tapi bisa dipastikan apa yang kita alami pasti sesuai dengan yang kita butuhkan. Dan sesuatu yang akan terjadi gak akan bisa dipercepat atau diperlambat. Semua terjadi sesuai dengan waktunya.
Kalau kita merasa kurang, pasti akan terus ada yang kurang. Merasa salah, pasti selalu ada kesalahan. Masalah pasti akan kita hadapi.
Kadang merasa cita-cita bahkan impian terasa menjauh, dan dipaksa untuk menerima keadaan. Tapi, bukannya pasti ada celah untuk bahagia asal kita memang berniat bahagia. Pasti ada celah untuk bersyukur cepat atau lambat. Bahkan kadang kita bisa melihat keuntungan yang berlipat ganda hanya dengan menggeser sedikit sudut pandang kita.
Mungkin bahagia itu sebenernya berdamai dengan diri sendiri, keadaan dan orang lain. Sesimpel kita mengurangi ekspektasi terhadap berbagai hal. Meskipun bukan juga menjadikan kita seseorang yang tanpa tujuan dan ambisi.
Saya pikir bahagia berarti harmoni. Harmoni dalam segala sesuatu dan seimbang.
;)
- V -
13 Agustus 2013 dan lanjutkan 6 September 2013
Comments
Post a Comment