Habibie & Ainun



Malam tadi saya dan suami nonton film Habibie & Ainun di Bioskop Semarang. 

Mereka adalah sepasang kekasih yang perlu dijadikan teladan. Kisah cinta yang manis dan mengharukan. Dimana dalam berbagai kondisi mereka tak kehilangan rasa cintanya, meskipun dibalut kecewa dan kepedihan. Mereka saling mendukung dan menyayangi lebih dari apapun. Membuat saya gemas sendiri menontonnya.

Namun ada satu hal yang saya garis bawahi. Ada adegan dimana akhirnya Habibie menyesali hal yang terlewatkan ketika Ia mengejar impian dan cita-citanya. Demi menepati janji kepada negara dan istrinya, Ia justru banyak kehilangan momen. Dan seketika, apa yang dituju selama ini tak ada artinya saat tahu Ainun jatuh sakit.

Betapa momen memang tidak bisa diputar ulang ataupun dibeli. 

Penyesalan.
Saya yakin ada penyesalan yang amat dalam pada Habibie.
Kalau waktu bisa diputar ulang,
Mungkin saja Habibie akan berkata,

Kalau saja saya lebih banyak meluangkan waktu buat Ainun dan anak-anak,
Kalau saja saya lebih memperhatikan kesehatan Ainun dimana Ainun tak pernah lupa memberikan obat untuk saya,
Kalau saja saya lebih mengutamakan keluarga,
Kalau saja... Kalau saja... Saya tahu.
Tak sedetikpun momen yang akan saya sia-siakan.

Sayangnya... Waktu hanya melaju satu arah, kearah depan. Tanpa bisa menoleh kembali. Tak ada belas kasihan. Semua berjalan mengikuti putaran waktu.

--

Sebenernya sebelum nonton ini saya ada sedikit gencatan senjata dengan suami saya. Kasusnya adalah saya protes karena kesibukannya di ppds (sekolah spesialis) yang kudu harus wajib diprioritaskan. Saya tahu betapa sibuk dirinya, dan betapa Ia ingin cepat selesai biar bisa lepas beban. Tapi 6 tahun itu gak sebentar untuk terus menerus fokus kesana. Berapa banyak momen yang akan terlewatkan dalam 6 tahun itu :(. Lalu.. Bagaimana jika Ia telah selesai (secepatnya) dan (ternyata) saya sudah tidak membutuhkannya lagi?

Sampai akhirnya tadi saya nulis ini sambil nangis sebelum ketemu suami saya. *lebay* *eh beneran loh*


SAKIT
Itu yang dirasa ketika apa yang selama ini dilakukan tak dianggap. 
Ketika apa yang dibutuhkan tidak terpenuhi dan tetap sabar. 
Sampai waktunya tetap saja yang dilakukan kurang.

Saya tak protes bukan berarti tak butuh,
Bukan juga karena dirasa baik-baik aja terlupakan kebutuhan hakikinya.

Saya bukan penjaga kandang tanpa rasa. 
Saya bisa kuat asal diberi pasokan kasih sayang.
Saya bisa sabar asal dimengerti.

Seberapa peduli kamu kepada saya?


Bukan cuma hidupmu yang berat.
Saya tidak mengeluh bukan karena hidup saya mulus-mulus saja.
Tapi saya berusaha, 
Berusaha semuanya agar terasa ringan.
Sampai tiba saat saya bertemu kamu dan ingin sedikit berbagi apa yang saya tahan selama ini.

Apa ini permintaan yang terlalu berat?
Apa pertemuan kita harus selalu diisi hanya oleh cerita beratnya hari-harimu? 
Hari-hari yang memang ingin kamu jalani?

Bagaimana dengan saya?
Apa kamu pernah bertanya setidaknya dalam hati, hari-hari seperti apa yang ingin saya jalani?
Bukan nanti, tapi sekarang dan saat ini.
Nanti bisa jadi terlambat, apa kamu tahu itu?

Bukannya saya mengeluh, 
Saya hanya ingin mengatakan kebutuhan saya yang mungkin terlupakan oleh kesibukanmu.
Saya ingin kamu sadar bahwa ada saya disini.
Seseorang yang wajib kamu perhatikan.

Apa itu berlebihan?

(22 Desember 2012 17:32)

And thank's to this movie. Film ini membantu memperjelas apa yang saya maksud, mudah-mudahan tersampaikan kepadamu. Dan kamu mengerti apa yang saya rasa.

*damai*

Comments

Popular posts from this blog

Kepadamu

Menjadi Dewasa

Random thought.