Tersesat

Kalau kau tahu akan tersesat dalam pemikiranmu tentangku, mungkin kau tak akan mau main-main apalagi berusaha mempermainkanku. Hingga kau menjerat kakimu sendiri.

Kau pikir aku macam wanita yang biasa kau rayu, kau pakai dan buang ampasnya. Kau salah besar. Aku cukup pandai pura-pura. Hingga tak jarang mereka yang terjerat.

Aku bisa mengajakmu berputar-putar hingga kau tak tahu dimana keberadaan kita dan lupa jalan pulang. Dan dalam keadaan setengah mabuk, kau kutinggalkan. Kau pun tersesat. Tak ingin pulang dan hanya mencariku.

Kau pikir dirimu hebat dan perkasa. Merasa bisa menaklukkan dan mendapatkan wanita manapun? Jangan salah. Mereka bukan menginginkanmu. Tapi mereka mau apa yang ada dibalik dompetmu. Kau berkuasa dengan itu.

Tapi itu tidak akan terjadi kepadaku. Justru karena apa yang kau punya itu, kau takluk kepadaku. Dan menyumpal semua itu agar mendapatkan aku. Padahal kau tak akan pernah memilikiku, tidak juga hatiku.

Aku bahkan menikmati jatuhnya laki-laki sepertimu. Itu alasanku untuk bersenang-senang dengan sejumlah lelaki besar kepala seperti ini. Otak kosong perut buncit kepala botak. Bahkan yang lumayan tampan pun tak kalah memuakkan dan banyak gaya.

Kau pasti akan menyesali semua ketika kau tersadar satu hal. Bahwa kau sebenarnya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Mungkin hanya berupa kepingan sampah yang tak bisa terurai layaknya kantong plastik di supermarket.

Kali ini kau masih saja tetap mencariku. Dan itu membuatmu frustasi. Kau memintaku untuk menemukan jalan pulang untukmu. Dan... kau ingin pulang kepadaku? Tak mungkin, sangat tak mungkin. Apa kau masih juga tak sadar bahwa aku selama ini pura-pura?

Lebih baik kau pulang, pulang ke tempat dia yang selalu menunggumu dengan setia. Menyiapkan teh atau kopi hangat dikala hujan, memasak makanan kesukaanmu, dan menemanimu melalui masa-masa sulitmu dulu. Dia yang mengasuh anak-anakmu dengan sabar. Dia yang percaya sepenuh hati kepadamu. Apa kau tak ingat itu? Apa yang kau cari dari aku? Bahkan kau yang mengaku pintar, hanya seidiot ini. Kau tak bisa membedakan mana yang tulus dan tidak.

Hanya orang-orang sepertimu yang tersesat seperti ini. Dan itu bukan salahku. Aku disini hanya untuk memberimu pelajaran. Bahwa apa yang kau kejar sekarang ini adalah semu. Dan aku yakin kau akan menyesalinya.

Dan... Aku senang melihat lelaki sepertimu yang tersesat. Hilang arah. Dan bodoh...

{Wanita pintar}



* dipersembahkan untuk para lelaki 'idiot' yang sering 'tersesat'

Comments

Popular posts from this blog

Kepadamu

Menjadi Dewasa

Random thought.