Menikmati Bahagia

Saat ini disini.
Aku sedang menikmati kebersamaan kita. Dikotamu dimana kamu tinggal selama lebih dari 8 bulan ini. Di kamar kosanmu yang kecil tapi nyaman.

Baru saja kamu tadi pulang sebentar setelah sholat jum'at dan mengambil beberapa peralatan untuk berjaga di Rumah Sakit. Itu adalah ketiga kalinya kamu pulang hari ini. Tadi pagi setelah kuliah pagi, kamu sempatkan untuk membeli sarapan buat kita dan kita makan bersama. Padahal katamu teman-temanmu makan di Rumah Makan Ampera bersama-sama. "Yah... Aku pilih makan sama kamulah. Kalo sama mereka kan bisa kapan aja" itu katamu waktu kutanya kenapa gak ikut. Dan memang bodohnya kenapa aku bertanya seperti itu. Kemudian kamu tertidur sebentar dan berangkat ke Rumah Sakit yang memang 'kepeleset nyampe' itu untuk follow up pasien. Dan pulang kembali untuk siap-siap sholat jum'at.

Aku tak begitu tahu, apa memang kamu begitu seringnya bolak-balik atau memang karena ada aku disini. Yang pasti aku bahagia.

Tadi malam kita sempat makan di Restoran Korea yang memang sudah kuinginkan selama beberapa hari ini. Dan aku senang sekali karena akhirnya kesampaian. Aku memesan ini itu, mengoceh ini itu dengan riang, dan kamu melihatku dengan tersenyum. Ntah apa arti senyum itu. Apa kamu juga bahagia melihatku kegirangan seperti ini?

Aku sadar, bahagia itu begitu sederhana. Sesederhana usapan tanganmu diatas kepalaku, membelai rambutku. Sesederhana perhatian kecilmu terhadapku. Dan sesederhana adanya kamu disisiku saat ini disini.

Aku tersenyum sendiri. Menunggu kamu menjadi aktivitas favoritku belakangan ini. Dalam ruangan sebesar 2,5 x 2,5 meter, diatas sebuah kasur berukuran kecil .

Kebahagiaanmu juga salah satu yang menyebabkan senyumku terulas. Senyum itu bukan hanya hadir dibibir, tapi juga merekah dihati. Seperti ketika kemarin kita kasih kejutan buat orang tuamu. Kamu yang tiba-tiba pulang ke Pekanbaru sehari sebelum lebaran. Tampak sekali terkejutnya Ayah yang membukakan pintu dan melihat sosokmu, dan lantas merangkulmu menemui Ibu seraya berkata, "buu... Ini anak pulang nih..". Dan Ibu langsung bangkit, menghempas kue lebaran yang sedang dibuatnya. Berlari dan memelukmu. Terlihat matanya yang berkaca-kaca.

Hari itu aku melihat banyak sekali tawa dan wajah bahagia dari orang-orang yang kusayang. Kamu tak henti-hentinya cerita tentang perjuanganmu dalam pendidikan. Suka duka. Sedih senang. Dan sebagainya. Malam itu sejenak rumah Ibu dan Ayah ramai oleh hangatnya canda tawa kita.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu selalu memasak makanan enak untuk hari raya. Seakan memang kurang afdol kalau tidak makan lontong kuah tauco buatan Ibu. Dan tahun inipun kamu bisa ikut menikmatinya. Ini pun jadi alasan sederhana sebuah kebahagiaan.

Ayah banyak tertawa. Dan aku memang paling suka ekspresinya seperti itu. Apalagi kalo bukan karena ceritamu, cerita kita. Hingga penyakit asma ayah kambuh dan harus di dopping dengan obat semprot buat asma.

Kepulanganmu selama 3 hari 2 malam itu cukup memberikan makna untuk lebaran kali ini. Makna yang aku sendiri saja tak menyangka akan bisa seperti ini.

Kemudian dalam perjalanan kita menuju Semarang. Kita dapat kejutan dari Mama, ia ada di sana. Di bandara Soetta menunggu kita yang hanya transit beberapa jam. 1 jam pun tak terasa terhisap begitu saja dalam obrolan kita. Seakan waktu tak sopan melintas dengan laju. Singkat namun penuh makna.

Begitu banyak kebahagiaan bertebaran disekeliling kita. Dan aku ingin menyadarinya lebih banyak lagi. Karena bahagia itu sebenarnya sederhana. Bahagia itu bila kita lebih banyak mensyukuri. Bahagia bukan berarti tidak boleh berharap, hanya saja membesarkan hati kita untuk menerima kenyataan yang ada.

Dua hari yang lalu tepat 4 tahun kita bersama dalam kehidupan yang baru. 4 tahun terasa singkat, meski begitu banyak momen yang sudah kita jalani. Banyak hal tak terduga yang terjadi, yang mungkin sebenarnya tidak kita inginkan. Tapi kita terima saja, karena sudah terbukti Tuhan memberikan semua yang kita butuhkan.

Di hari jadi pernikahan kita itu kamu pulang jam 1 siang setelah jaga malam, dan langsung mengajakku pergi makan Iga bakar. Kemudian kita berputar-putar kota Semarang dengan scoopy kesayanganmu. Dan pulangnya mampir untuk makan mie ayam di pinggir jalan. Begitu sederhana untuk perayaan ulang tahun pernikahan. Tapi bahagia. Iya, aku bahagia.

Saat ini aku sedang duduk bersama kebahagiaan, menunggu kamu. Menunggu kebahagiaan lainnya disela kesibukanmu yang padat.

Semoga dan semoga kebahagiaan sederhana ini tak luput dari kita.

Semarang, 24 Agustus 2012 13:40



Comments

  1. Vibaaaa
    Aku bacanya nangis
    iya viba bahagia itu sangat sederhana
    aku baru menyadari setelah begitu banyak kehilangan
    semoga Allah senaniasa menjaga cinta kalian dan memberikan lebih banyak kebahagian kalian berdua

    ReplyDelete
  2. Viba yang komen tadi mbak santi... karawang semoga kamu masih ingat aku yahhhhh

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kepadamu

Menjadi Dewasa

Random thought.