Terima kasih bapak (yang mengaku) anggota Dewan
Hari ini saya menyadari sesuatu yang penting. Lagi-lagi saya harus belajar dan terus belajar. Ketika ego ini menguasai diri, ketika kesombongan merajalela, ketika hanya mementingkan kesenangan pribadi, ketika hanya mengeluh dan menyalahkan orang lain, ketika merasa orang lain yang membutuhkan diri ini, ketika menempatkan diri terlalu tinggi, ketika tidak menanggapi kesusahan orang lain, ketika menganggap rejeki sebagai hal remeh, dan ketika merasa di awang-awang.
Ketika merasa dipuncak kebahagiaan yang luar biasa saat dapat bermain game MARIO BROSS...
*dering handphone irama mario bros berbunyi* tanda sms masuk.
Dan...
Seketika saya sulit bernapas, jantuk berdetak lebih kencang, lebih cepat dan pikiran saya benar-benar melayang. Tak percaya apa yang saya baca.
Sms tersebut datang dari nomor tak dikenal dari bapak yang mengaku anggota dewan dan istrinya (yang kemungkinan pasien lama saya) ingin perawatan wajah dengan saya. Isinya berupa makian dan ancaman. Dasar alasannya adalah karena ia kesal saya menerapkan jadwal praktek saya tutup di hari minggu.
Saya sempat terdiam dan berpikir ulang. Jujur saya pun sempat emosi. Kemudian saya meminta pendapat beberapa orang, sekaligus untuk menenangkan diri.
Apa memang saya harus melayani pasien saya tanpa punya waktu untuk berlibur? Saya kan punya keluarga, saya juga butuh istirahat. Dokter juga manusia.
Kembali ke masalah. Terlepas dari siapa yang benar atau salah…
Siapapun yang mengirimkan saya sms itu, saya sangat berterima kasih kepadanya. Sms itu membuat saya berpikir ulang dan intropeksi semua aspek hidup saya, menjadi sebuah teguran yang nyata buat saya, jawaban dari rasa ketidaknyamanan saya, keegoisan saya, dan sebagainya. Sapaan yang membuat saya harus belajar kembali mengenai cara berkomunikasi yang baik, bagaimana menghadapi pasien, bagaimana menjalankan peran saya secara profesional. Mengingatkan saya untuk bersyukur dengan apa yang telah saya dapat, menjaga dan menjalankan sebaik-baiknya apa yang telah di anugrahkan kepada saya. Menyadari bahwa saya masih diberikan rejeki, diberi kesehatan dan diberik jalur untuk berusaha. Dan menjalankan kesempatan ini sepenuh hati.
Oleh karena itu mulai saat ini saya akan berusaha melayani dengan lebih baik lagi. Tapi maaf ya bapak yang mengaku anggota dewan, saya tetap tidak dapat memenuhi permintaan anda mengenai buka praktek di hari minggu. Karena saya pun butuh waktu untuk keluarga saya.
Well..
Semua ini suatu proses bukan? Menuju pendewasaan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Dan kadang, teguran secara ‘kasar’ membuat kita lebih berfikir.
'bukankah kita bisa mengambil suatu keuntungan dari suatu kejadian?'
Ps: terima kasih kepada suami saya yang selalu menjadi penerang dalam jalan yang kelam, menjadi pagar pembatas diri, dan menjadi sumber energi pendorong semangat saya.
Viba Rosfanty Taufan | Bengkalis, 28 Juni 2010
Comments
Post a Comment