Mencoba Memahami...
Dia ingin teriak, dia bosan!! Dia ingin lari. Lari dari semua kepenatan ini. Kenapa semua hal menjadi begitu menjemukan??
Dia terpuruk dan terus terpuruk. Keterbatasan ini membuatnya tak mati namun juga tak berasa hidup. Dia letih dipermainkan takdir. Apa impian dan harapan akan membuatnya semakin jatuh??
Dia menderita hingga tak tahu lagi derita itu apa. Dia menjalani waktu ke waktu yang terasa begitu lama. Dia menanti akhir penantiannya. Semua begitu jauh dan serasa tak sanggup tangan ini menggapainya.
Dia kira puncak gunung itu sudah dekat, ternyata dia salah. Jalan masih harus mendaki kawan. Dan dia tak tahu. Adakah pilihan lain selain meneruskan perjalanan atau kembali???
Atau diam. Atau apa.
Sungguh tidak jelas. Dia ingin marah! Atau ingin berterima kasih!
Sungguh dia tak tahu kawan. Jangankan aku, dirinya saja tak tahu.
Keadaan ini.
Pesan apa yang harus sampai pada dirinya. Kenapa jalan ini begitu sulit?? Apa karena dia hanya seorang diri?? Dimana mereka?? Beberapa orang yang selalu diagungkan. Tempat dimana dia menemukan sedikit oksigen untuk bernapas, ya semakin tinggi daratan semakin sedikit oksigen yang bisa diperoleh. Tapi hey, dimana mereka?! Dia hanya tahu mereka ada. Namun dimana. Dia yakin mereka tak akan mengerti. Tak akan tahu apa yang dia rasa.
Disini dia yang berhadapan dengan derita. Ntah berapa kali lagi dia harus terpelanting. Ntah sudah yang keberapa kali??!
Dia tahu. Keputusasaan terbesarnya adalah ketika mengetahui tak ada jalan yang bisa dia tuju. Tak tahu dimana arah cahaya terang itu. Dan kenapa seolah fatamorgana ketika dia datangi tempat itu.
Kali ini dia tak tahan. Semua ini mulai menggerogotinya sampai ke tulang. Pilu. Ya memang pilu.
Dia benar-benar tidak pernah berpikir kalau hidup akan sesulit ini.
Jadi, haruskan dia terus jalan, atau balik arah, atau diam ditempat, atau ada jawaban lain??
---
Mencoba memahamimu sahabat
Viba Rosfanty Taufan | 05 Juni 2010 00:00
Comments
Post a Comment