Sirna
Anak kecil itu berjalan sembari melompat kecil, setengah berlari.
"Maaa.. Tunggu. Jangan cepat-cepat jalannya. Langkahku kan masih kecil-kecil" ia berkata sembari terengah-engah. Pipinya bersemu merah terkena terik matahari.
"Iya sayang... Tapi kalau gak cepat, nanti kita telat jemput papa" sahut sang ibu seraya memperlambat langkahnya.
Kini sang anak telah menggandeng tangan ibunya. Wajahnya tersenyum senang. Sangat senang. Membuatnya terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
"Jam berapa papa sampai ma??"
"Sebentar lagi. 20 menit lagi nak."
Sungguh tak sabar hatinya ingin segera bertemu papanya. Rasa rindu sudah memuncak... Dibayangkannya wajah papanya yang ganteng tersenyum, sembari melebarkan kedua tangannya. Dan menggendongnya kedalam pelukan. Ia tersenyum geli...
---
Sang ibu pun terlihat gelisah, ia hampir tak dapat menahan rasa rindu yang hampir meledak.
Ia sudah menyiapkan segalanya. Semua favorit suaminya, masakan, film, dan sebagainya. Juga sudah menentukan jadwal tamasya bersama si kecil.
Tak sabar rasanya.
---
Sirna.. Semua harapan itu sirna. Digantikan oleh berita duka. Sungguh tiba-tiba. Bagai mimpi yang tak pasti. Berharap terjaga didunia lain.
"Mama... Kenapa begini ma??"
Sang ibu tak dapat menjawab. Ia hilang arah, banyak rasa bergemuruh didadanya.
"Suamiku.. Aku sangat merindukanmu. Tidakkah kau ingin memelukku terlebih dahulu. " Isaknya...
Mereka terduduk lemas diantara orang-orang berpakaian hitam.
"Maaa.. Tunggu. Jangan cepat-cepat jalannya. Langkahku kan masih kecil-kecil" ia berkata sembari terengah-engah. Pipinya bersemu merah terkena terik matahari.
"Iya sayang... Tapi kalau gak cepat, nanti kita telat jemput papa" sahut sang ibu seraya memperlambat langkahnya.
Kini sang anak telah menggandeng tangan ibunya. Wajahnya tersenyum senang. Sangat senang. Membuatnya terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
"Jam berapa papa sampai ma??"
"Sebentar lagi. 20 menit lagi nak."
Sungguh tak sabar hatinya ingin segera bertemu papanya. Rasa rindu sudah memuncak... Dibayangkannya wajah papanya yang ganteng tersenyum, sembari melebarkan kedua tangannya. Dan menggendongnya kedalam pelukan. Ia tersenyum geli...
---
Sang ibu pun terlihat gelisah, ia hampir tak dapat menahan rasa rindu yang hampir meledak.
Ia sudah menyiapkan segalanya. Semua favorit suaminya, masakan, film, dan sebagainya. Juga sudah menentukan jadwal tamasya bersama si kecil.
Tak sabar rasanya.
---
Sirna.. Semua harapan itu sirna. Digantikan oleh berita duka. Sungguh tiba-tiba. Bagai mimpi yang tak pasti. Berharap terjaga didunia lain.
"Mama... Kenapa begini ma??"
Sang ibu tak dapat menjawab. Ia hilang arah, banyak rasa bergemuruh didadanya.
"Suamiku.. Aku sangat merindukanmu. Tidakkah kau ingin memelukku terlebih dahulu. " Isaknya...
Mereka terduduk lemas diantara orang-orang berpakaian hitam.
VibaHolic | Bengkalis, 27 april 2010
Comments
Post a Comment