Azura (2) | Berdiam dan Bernapas dengan Sadar
Saat cinta dipertanyakan
Saat cinta tak lagi berkuasa
Saat kebimbangan merasuki
Saat semua hal menjadi semu
Saat rasa takut menghentikan langkah
Masih dapatkah kuberharap??
Hal itu terus dan terus berputar dalam batinnya. Ia putus asa. Ditatapnya sedih semua kenangan. Semua hal yang telah mereka lewati.
Pelik. Gaduh. Lelah. Namun tak dapat berhenti...
Diangkatnya telpon genggam berwarna merah itu. Kemudian ditekannya sederet nomor.
"Halo..." Suara disebrang sana menyahut.
Hening.
"Azura... Ada apa??" Lelaki itu bertanya.
Isak tangis pun perlahan terdengar.
"Domi... Aku butuh penawar... Aku telah diracuni"
"Siapa yang meracunimu?? Dengan cara apa?" Tanyanya bingung, bimbang.
"Diriku sendiri... Semua bayangan dan ingatan itu berlomba-lomba menyiksaku. Aku lelah, lelah luar biasa."
"Tarik nafas dalam-dalam Azura. Aku tidak mau beban itu menghimpitmu lebih jauh lagi..."
"Aku tidak ingin merasakan semua ini Domi. Aku ingin tenang!". Ia berkata dengan suara parau.
Saat cinta tak lagi berkuasa
Saat kebimbangan merasuki
Saat semua hal menjadi semu
Saat rasa takut menghentikan langkah
Masih dapatkah kuberharap??
Hal itu terus dan terus berputar dalam batinnya. Ia putus asa. Ditatapnya sedih semua kenangan. Semua hal yang telah mereka lewati.
Pelik. Gaduh. Lelah. Namun tak dapat berhenti...
Diangkatnya telpon genggam berwarna merah itu. Kemudian ditekannya sederet nomor.
"Halo..." Suara disebrang sana menyahut.
Hening.
"Azura... Ada apa??" Lelaki itu bertanya.
Isak tangis pun perlahan terdengar.
"Domi... Aku butuh penawar... Aku telah diracuni"
"Siapa yang meracunimu?? Dengan cara apa?" Tanyanya bingung, bimbang.
"Diriku sendiri... Semua bayangan dan ingatan itu berlomba-lomba menyiksaku. Aku lelah, lelah luar biasa."
"Tarik nafas dalam-dalam Azura. Aku tidak mau beban itu menghimpitmu lebih jauh lagi..."
"Aku tidak ingin merasakan semua ini Domi. Aku ingin tenang!". Ia berkata dengan suara parau.
Domi terdiam sebentar dan berpikir. "Tidak bisa Azura.. " ucapnya dengan nada tegas namun lembut. "Kali ini kamu tidak bisa memilih. Harus kamu terima semua yang dirimu dan pikiranmu berikan kepadamu. Kadang kita dipaksa untuk menerima tanpa tahu maksud dan tujuannya. Tanpa tahu maknanya."
Azura menghembuskan nafas perlahan. "Aku ingin lari..." ucapnya lagi seraya terbata dan nyaris tak terdengar.
"Itu tidak akan menawarkan racun yang tercipta" ucapan Domi begitu menukik. Azura mengerti dan mengerti. Namun ia amat sangat menderita.
"Aku tahu... Dan aku lelah"
"Berdiamlah Azura.. Dan bernafaslah dengan sadar. Aku disini..."
"Aku tahu.." hanya itu ucapan yang keluar. Ia pun mulai diam, seraya bernafas dan menyadari sekujur tubuhnya masih hidup, masih baik-baik saja.
Tak berapa lama Domi menyanyikan sebuah lagu...
"So you think that love is long overdue..
Tired of looking for someone to care
Let me tell you know the choice is up to you
But you know I will always be there
I am here for you, always here for you....."
- Here for you by Fire house
Azura pun segera tertidur dengan telpon genggam tetap disamping telinga. Ia merasa damai... Sesaat.
Ntah apa yang terjadi esok hari.. 'Bukan urusanku' pikirnya.
Malam ini tetap hening namun hangat.
Saat cinta dipertanyakan
Saat cinta tak lagi berkuasa
Saat kebimbangan merasuki
Saat semua hal menjadi semu
Saat rasa takut menghentikan langkah
Masih dapatkah kuberharap??
Mungkinkah sudah terjawab
[VibaHolic | Bengkalis, 27 April 2010]
Comments
Post a Comment