Azura (1) | Kenangan
Malam ini Azura kembali menangis... ia masih terluka. Masih meradang dan masih terasa perih yang memenuhi jiwanya.
"Jadi... Coba kamu jelaskan! Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Maafkan aku Azura"
"Kamu sungguh tega Adnan!!"
Masih terbayang kata demi kata yang terucap dari bibir Adnan. Tak percaya...
Azura masih tak habis pikir. Ia melayangkan pandangannya pada langit malam.... Matanya sembab, dan air mata masih saja meleleh disana. Ia ingin pergi, tak tahu kemana. Ingin lari... Ingin teriak namun terasa bisu.
Azura mencari dan mencari.. Terus mencari makna yang tak kunjung hadir. Tak habis pikir, mencoba menyusun ulang kejadian demi kejadian didalam memorinya. Diurutkannya satu persatu. Namun tetap sayatan itu masih nyata. Masih didominasi oleh nyeri..
Rekayasa yang nyata namun semu... Ternyata ia salah selama ini. Ia kecewa...
---
Adnan dilanda kesedihan yang dasyat. Sesal tak jua hilang. Ia bagai tak dapat bernafas. Tercekat seorang diri dalam gelap. Direbahkannya kepala diatas sofa. Benaknya melayang pada kejadian itu. Beberapa waktu lalu. Ia memejamkan mata, basah dan terasa panas.
Adnan bangkit dan berjalan ke arah cermin dalam kamar mandi. Ditatapnya lekat-lekat dirinya. Ada rasa amarah disana, ntah pada siapa, atau ntah pada dirinya.
"Aku mencintaimu. Jelaskan padaku esensi dari cinta. Adakah dusta tersirat disana Adnan??"
Terbayang ekspresi Azura saat itu. Ada sesuatu yang memenuhi sudut matanya dan menetes perlahan. Sungguh tak mengurangi kecantikannya.
Tiba-tiba rindu yang teramat sangat menyergap dirinya, dan didapati ada tembok tinggi menghadang. Ada jarak, ada jarak diantara mereka saat ini.
---
Ia menangis dan terus menangis. Menumpahkan segala rasa yang hadir.
Sendiri. Disudut ruangan.
"Jadi... Coba kamu jelaskan! Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Maafkan aku Azura"
"Kamu sungguh tega Adnan!!"
Masih terbayang kata demi kata yang terucap dari bibir Adnan. Tak percaya...
Azura masih tak habis pikir. Ia melayangkan pandangannya pada langit malam.... Matanya sembab, dan air mata masih saja meleleh disana. Ia ingin pergi, tak tahu kemana. Ingin lari... Ingin teriak namun terasa bisu.
Azura mencari dan mencari.. Terus mencari makna yang tak kunjung hadir. Tak habis pikir, mencoba menyusun ulang kejadian demi kejadian didalam memorinya. Diurutkannya satu persatu. Namun tetap sayatan itu masih nyata. Masih didominasi oleh nyeri..
Rekayasa yang nyata namun semu... Ternyata ia salah selama ini. Ia kecewa...
---
Adnan dilanda kesedihan yang dasyat. Sesal tak jua hilang. Ia bagai tak dapat bernafas. Tercekat seorang diri dalam gelap. Direbahkannya kepala diatas sofa. Benaknya melayang pada kejadian itu. Beberapa waktu lalu. Ia memejamkan mata, basah dan terasa panas.
Adnan bangkit dan berjalan ke arah cermin dalam kamar mandi. Ditatapnya lekat-lekat dirinya. Ada rasa amarah disana, ntah pada siapa, atau ntah pada dirinya.
"Aku mencintaimu. Jelaskan padaku esensi dari cinta. Adakah dusta tersirat disana Adnan??"
Terbayang ekspresi Azura saat itu. Ada sesuatu yang memenuhi sudut matanya dan menetes perlahan. Sungguh tak mengurangi kecantikannya.
Tiba-tiba rindu yang teramat sangat menyergap dirinya, dan didapati ada tembok tinggi menghadang. Ada jarak, ada jarak diantara mereka saat ini.
---
Ia menangis dan terus menangis. Menumpahkan segala rasa yang hadir.
Sendiri. Disudut ruangan.
Ditemani oleh kenangan...
---
Ia terus menyesal. Dan berharap dapat menggenggam tangan mungil itu lagi. Asa yang dirasa sulit untuk terulang. Sedih. Pilu.
---
Ia terus menyesal. Dan berharap dapat menggenggam tangan mungil itu lagi. Asa yang dirasa sulit untuk terulang. Sedih. Pilu.
Juga ditemani oleh kenangan.
VibaHolic | Bengkalis, 26 April 2010
Comments
Post a Comment